Dalam temaram cahaya bulan kulihat persawahan padi yang sudah menguning. Oh rupanya sudah musim panen tiba. Sepeda motor berbelok ke kiri dan di pertigaan lurus kemudian kiri lagi. Jalan ini, ya masih sangat jelas dalam ingatanku. Ini jalan menuju rumahku. Di bagian dalam sudah gelap. Sepertinya masjid sudah ditinggalkan jamaah subuh. Hanya ada empat anak perempuan yang masih betah mengaji di bagian serambi masjid. Alangkah senangnya, di masjid ada adik-adik santri yang mau mengaji walaupun hanya tersisa empat orang.

Hatiku semakin berdebar-debar, kuingat masa-masa dulu ketika aku sedang mengaji di masjid ini. Masjid Jami’ Attaubah namanya. Masjid yang telah menajadi saksi dan sahabat sejak aku masih kecil, masjid itu sudah menjadi rumah bagiku. Bagaimana nasibmu kini, semoga engkau masih kokoh berdiri, menemani hamba-hamba yang muttaqin,

Suasana masih sepi, dan di atas sana masih ada cahaya bulan tanggal 18, walaupun tampak separuh saja namun masih terang dengan cahayanya yang indah.

One thought on “mengobarkan semangat yang tak pernah padam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s