perkembangan individu

  1. Pengertian Perkembangan

Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematisprogresif dan berkesinambungan dalam diri individu  sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.

Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.  Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya.  Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan  kematangan organ-organ seksualnya.

Progresif  berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar); perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku).

Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme  itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Contoh : untuk dapat  berdiri, seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan  duduk dan merangkak.

Lebih jauh lagi, Syamsu Yusuf (2003) memerinci,  beberapa prinsip perkembangan individu,  yaitu :

  1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
  2. Semua aspek perkembangan saling berhubungan.
  3. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.
  4. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
  5. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan.
  6. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu.

Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut :

  1. Cephalocaudal & proximal-distal(perkembangan   manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung, paru dan sebagainya) ke samping (tangan).
    1. Struktur mendahului fungsi.
    2. Diferensiasi ke integrasi.
    3. Dari konkret ke abstrak.
    4. Dari egosentris ke perspektivisme.
    5. Dari outer control ke inner control.
    6. 2.    Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu

Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut :

  1. Terjadinya perubahan dalam aspek  :
    1. Fisik;  seperti : berat dan tinggi badan.
    2. Psikis; seperti : berbicara  dan berfikir.
    3. Terjadinya perubahan dalam proporsi.
      1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya.
      2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis.
    4. Lenyapnya tanda-tanda yang lama.
      1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal.
      2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif.
    5. Diperolehnya tanda-tanda baru.
      1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua.
      2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama.
  1. 3.    Tahapan Perkembangan Individu

Dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis  :

  1. Masa Usia Pra Sekolah

Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik

  1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impuls-impuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 
  2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar  melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka.
  3. Masa Usia Sekolah Dasar

Masa Usia  Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi.

Ciri-ciri  pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun)  :

  1. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi
  2. Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
  3. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri
  4. Membandingkan dirinya dengan anak yang lain
  5. Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
  6. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.

Ciri-ciri  pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :

  1. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret
  2. Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar
  3. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus  sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus
  4. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya
  5. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai  prestasi sekolahnya.
  6. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
  7.  Masa Usia Sekolah Menegah

Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja, yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu :

  1. masa remaja awal; biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif, dalam jasmani dan mental, prestasi, serta sikap sosial,
  2. masa remaja; pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Pada masa ini  sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang  bernilai, pantas dijunjung dan dipuja.
  3. masa remaja akhir; setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja, yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa.
  1. Masa Usia Kemahasiswaan (18,00-25,00 tahun)

Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya, yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup.

  1. Aspek- Aspek Perkembangan Individu
    1. Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek :

  1. Perkembangan anatomis; adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang, indeks tinggi dan berat badan, proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan.
  2. Perkembangan fisiologis; ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif, kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis, seperti konstraksi otot-otot, peredaran darah dan pernafasan, persyarafan, sekresi kelenjar dan pencernaan.

Laju perkembangan berjalan secara berirama, pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat, pada usia sekolah menjadi lambat, mulai masa remaja terjadi amat mencolok. Kemudian, pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria, laju per- kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan.

  1. Perkembangan Perilaku Psikomotorik

Perkembangan psikomotorik  memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, konatif).

Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik, yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks, dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements).

Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai  oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan  memegang benda (prehension). Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working).

  1. Perkembangan Bahasa

Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. Melalui bahasa, manusia, mengkodifikasikan, mencatat, menyimpan, mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi, baik dalam bentuk lisan,  tulisan, gambar, lukisan gerak – gerik, dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban, bicara monolog, haus nama-nama, gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab, membuat kalimat sederhana, dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis, membaca dan menggambar permulaan.

  1. Perkembangan Perilaku Kognitif

Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies, Jones dan Conrad (Loree,1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja, setelah itu kepesatannya berangsur menurun.

Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun, dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun.

Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ, Bloom (1964)  mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut :

Usia

Perkembangan

1 tahun

Sekitar 20 %

4 tahun

Sekitar 50 %

8 tahun

Sekitar 80 %

13 tahun

Sekitar 92 %

Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget,  sebagai berikut :

  1. Tahap Sensori-Motor (0-2)

Inteligensi sensori-motor  dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence), yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi  individu pada tahap ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence. Artinya, benda apapun  yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun  sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang   18 – 24 bulan barulah kemampuan object permanence  anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis.

  1. Tahap Pra Operasional (2 – 7)

Pada tahap ini anak sudah  memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Jadi, pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor, yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation,insight learning  dan kemampuan berbahasa, dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.

  1. Tahap konkret-operasional (7-11)

Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret.

  1. Tahap formal-operasional (11 – dewasa)

Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan  dua ragam kemampuan kognitif yaitu :

  1. Kapasitas menggunakan hipotesis

Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.

  1. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak

Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.

  1. Perkembangan Perilaku Sosial

Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. Pada awalnya, ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. Ia mencoba meniru, mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah, baik yang menyangkut nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Akhirnya, ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”.

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya.

Krech et. al. (1962) mengemukan bahwa  untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya, yang dibagi ke dalam tiga kategori :

  1. Kecenderungan peranan (role disposition);  ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu.
  2. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition); ciri-ciri respons  interpersonal yang bertalian dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain.
  3. Kecenderungan ekspresif  (expressive disposition); ciri-ciri respons  interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri, dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion).

Sementara itu, Buhler (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tahap

Ciri-Ciri

Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 )

Subyektif

Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri

Kritis I ( 3 – 4 )

Trozt Alter

Pembantah, keras kepala

Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 )

Masa Subyektif Menuju

Masa Obyektif

Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan

Anak Sekolah ( 6 – 12 )

Masa Obyektif

Membandingkan dengan aturan – aturan

Kritis II ( 12 – 13 )

Masa Pre Puber

Perilaku coba-coba, serba salah, ingin diuji

Remaja Awal ( 13 – 16 )

Masa Subyektif Menuju

Masa Obyektif

Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya

Remaja Akhir  ( 16 – 18 )

Masa Obyektif

Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya

  1. Perkembangan Moralitas

Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada, bersamaan  itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan, norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku.  Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas.

Dalam hal ini, Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu, sebagaimana tampak dalam tabel berikut :

Tingkat

Tahap

Pre Conventional (0 – 9)

  1. Orientasi  terhadap kepatuhan dan hukuman
  2. Relativistik hedonism
  3. Orientasi mengenai anak yang baik
  4. Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas
  5. Orientasi  terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial
  6. Prinsip etis universal
    1. Perkembangan Penghayatan Keagamaan

Conventional (9 – 15)

Post Conventional ( > 15 )

Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya, pada saat-saat tertentu, individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan  bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi  apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat, 1970). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual  tertentu,  baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk  nyata kehidupan sehari-hari.

Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan perkembangan keagamaan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :

Tahapan

Ciri-Ciri

Masa

Kanak-Kanak

Sikap reseptif meskipun banyak bertanya

Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi

Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam

Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya)

Masa Sekolah

Sikap reseptif yang disertai pengertian

Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional

Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral

Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura)

Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau, karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan

Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik, sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan

Sikap kembali ke arah positif, bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya

Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya

Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui  proses identifikasi dan merindu puja, ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia

Masa

Remaja Awal

Masa

Remaja Akhir

h.   Perkembangan Perilaku Konatif

Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin,2003) mengemukakan tentang  tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual, sebagaimana  tampak dalam tabel berikut ini :

Daerah Sensitif

Cara Pemuasan

Sasaran Pemuasan

A. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD)

Pre Genital Period

Infantile Sexuality

Oral Stage

Mulut dan benda

Early Oral

Menghisap ibu jari

Mulut sendiri, memilih dan memasukkan  benda kemulut

Memilih benda dan digigitnya secara sadis

Late Oral

Menggigit, merusak dengan mulut

Anal Stage

Dubur dan benda

Early Anal

 

Memeriksa dan memainkan duburnya

Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur

Late Anal

Memainkan dan memperhatikan duburnya

Early Genital       Period (phalic stage)

Menyentuh, memegang, melihat, menunjukkan alat kelaminnya

Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties)

B. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD)

No New Zone

(tidak ada daerah sensitif baru)

Represi

Reaksi formasi

Sublimasi dan kecen- derungan kasih sayang

Berkembangnya perasaan–perasaan sosial

C. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD)

Late Genital Period

Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak

Mengurangi cara-cara waktu masa kanak-kanak

Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya

Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis  (heterosexual)

Akhirnya,  siap berfungsinya alat kelamin

Munculnya cara orang dewasa memperoleh pemuasan

i.     Perkembangan Emosional

Aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel, yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus); (2)  perubahan–perubahan fisiologis yang terjadi pada individu; dan  (3) pola sambutan. Yang mungkin dirubah  dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons), sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu :  (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka); dan  (2) intensitasnya (kuat-lemah). Bridges (Loree, 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak, sebagai berikut :

Usia

Ciri-Ciri

Pada saat dilahirkan

Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi, cahaya, temperatur)

0 – 3 bln

Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya

3 – 6 bln

Ketidaksenangan berdiferensiasi  ke dalam kemarahan, kebencian dan ketakutan

9 – 12 bln

Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang

18 bulan pertama

Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang

2 th

Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan

5 th

Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu, cemas dan kecewa sedangkan  kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang

j.     Perkembangan Kepribadian

Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian  dapat dan mungkin terjadi, terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. 

Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 2005 mengemukakan  tahapan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar :

  1. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.
  2. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomyshame, doubt. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah  bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain  dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
  3. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.
  4. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
  5. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas  diri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
  6. Masa Dewasa Awal (Youngadulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacyisolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini  ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
  7. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativitystagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan.
  8. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integritydespair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.

Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini :              

Developmental Stage

Basic Components

Infancy

Early childhood

Preschool age

School age

Adolescence

Young adulthood

Adulthood

Senescence

Trust vs Mistrust

Autonomy vs Shame, Doubt

Initiative vs Guilt

Industry vs Inferiority

Identity vs Identity Confusion

Intimacy vs Isolation

Generativity vs Stagnation

Ego Integrity vs Despair

k.   Perkembangan Karier

Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan, namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier  yang dilalui sepanjang hayatnya,  mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier, eksplorasi karier, persiapan karier  hingga sampai pada penempatan kariernya.

Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya.

Selanjutnya, berkenaan dengan tahapan perkembangan karier, Zunker (Popon Sy. Arifin,1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu, sebagaimana tampak dalam tabel berikut  ini :

Tahap

Ciri-Ciri

Usia

Growth

Development of capacity, attitudes, interest, and needs associated with self concept

(birth -14 or 15)

Exploratory

Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized

(15 – 24)

Establishment

Trial and stabilization trhough work experiences

(25 – 44)

Maintenance

A continual adjustment process to improve working position and situation

(45 – 64)

Decline

Preretirement consideration, work out put, and eventual retirement.

(65 – …)

  1. Tugas – Tugas Perkembangan Individu

Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu, yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini :

Masa Dewasa :

Masa Tua

Tengah Baya

Masa Dewasa  Awal

Masa Remaja (Adolesence) :

(1) Late Adolesence  (18 – 21 th)

(2) Early Adolesence (16 – 17 th)

(3) Pre Adolesence (11 – 13 th)

Masa Kanak-Kanak  (2 th – Remaja)

           Masa Bayi  (2 Minggu s.d. 2 th) 

 Masa Orok (10 –14 hari)

                        Masa  Konsepsi (Pranatal)  (0-9 bln)

Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap, perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “  A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society, difficulty with later task.

Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor :                                           (1) kematangan fisik;  (2) tuntutan masyarakat secara kultural;             (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri; dan             (4) norma-norma agama.

Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan, sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugas-tugas perkembangannya para peserta didik.

Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut  Havighurst.

  1. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal        (0,0–6.0)
    1. Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan.
      1. Belajar memakan makan padat.
      2. Belajar berbicara.
      3. Belajar buang air kecil dan buang air besar.
      4. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
      5. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.
      6. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.
      7. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain.
      8. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.
      9. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah  (6,0-12.0)
        1. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
        2. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
        3. Belajar bergaul dengan teman sebaya.
        4. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
        5. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
        6. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
        7. Mengembangkan kata hati.
        8. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
        9. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.
        10. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0-21.0)
          1. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
          2. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.
          3. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
          4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
          5. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.
          6. Memilih dan mempersiapkan karier.
          7. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
          8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
          9. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.

10. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.

  1. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal
    1. Memilih pasangan.
    2. Belajar hidup dengan pasangan.
    3. Memulai hidup dengan pasangan.
    4. Memelihara anak.
    5. Mengelola rumah tangga.
    6. Memulai bekerja.
    7. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
    8. Menemukan suatu kelompok yang serasi.

Sementara itu, Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA, yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah,  yaitu :

  1. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP
    1. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa  kepada Tuhan Yang Maha Esa.
    2. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis  terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.
    3. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya  dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
    4. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas.
    5. Mengenal kemampuan bakat, dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni.
    6. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau  mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat.
    7. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi.
    8. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan minat manusia.
    9. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA
      1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa  kepada Tuhan Yang Maha Esa
      2. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam perannya    sebagai pria dan wanita.
      3. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat
      4. Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan kesenian sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
      5. Mencapai kematangan dalam pilihan karir
      6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
      7. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
      8. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni.
      9. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.
  1. Perkembangan Pada Masa Remaja
    1. Pengetian  dan Makna  Masa Remaja

Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan  suatu periode  dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak  sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best  of time and the worst of time.

Para ahli umumnya sepakat bahwa  rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d.              14-15 th);  dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th).

Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja :

  1. Freud  menafsirkan masa remaja  sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.
  2. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.
  3. Spranger memberikan  tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
  4. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan   sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
  5. G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan).
  6. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja

Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan  masa remaja, yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s.d. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s.d. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik, psikomotor, bahasa, kognitif, sosial, moralitas, keagamaan,  konatif, emosi afektif dan kepribadian.

 Remaja Awal

(11-13 Th s.d.14-15 Th)

Remaja Akhir

(14-16 Th.s.d.18-20 Th)

Fisik

  1. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat.
  2. Laju perkembangan secara umum kembali menurun, sangat lambat.
  3. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering- kali kurang seimbang.
  4. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa.
  5. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region, otot mengembang pada bagian – bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki.
  6. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa.

Psikomotor

  1. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan.
  2. Gerak gerik mulai mantap.
  1. Aktif dalam berbagai  jenis cabang permainan.
  2. Jenis  dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja.

Bahasa

  1. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing.
  2. Lebih memantapkan diri pada bahasa asing tertentu yang dipilihnya.
  3. Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung segi erotik, fantastik dan estetik.
  4. Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung nilai-nilai filosofis, ethis, religius.

Perilaku Kognitif

  1. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi, diferen-siasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat abstrak, meskipun relatif terbatas.
  2. Sudah mampu meng-operasikan kaidah-kaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif.
  3. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat.
  1. Tercapainya titik puncak kedewasaan  bahkan mungkin mapan (plateau) yang suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi.
  2. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai menujukkan kecenderungan-kecende- rungan yang lebih jelas.
  3. Kecenderungan bakat tertentu mencapai titik puncak dan kemantapannya

Perilaku Sosial

  1. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer.
  2. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat).
  1. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi.
  2. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel, kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat.

Moralitas

  1. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua.
  2. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan.
  3. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya.
  4. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya.
  5. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.
  6. Mulai dapat memelihara jarak dan batas-batas kebebasan- nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya.

Perilaku Keagamaan

  1. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis.
  2. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya.
  3. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya.
  4. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas
  5. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup
  6. Mulai menemukan pegangan hidup

Konatif, Emosi,  Afektif dan Kepribadian

  1. Lima kebutuhan dasar (fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya
  2. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya.
  3. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah, gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat
  4. Reaksi-reaksi dan ekspresi  emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya.
  1. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis, ekonomis, estetis, sosial, politis, dan religius), meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba.
  2. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya; yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya.
  3. Merupakan masa kritis dalam rangka meng-hadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya, yang akan membentuk kepribadiannnya.
  4. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa.
  1. Problema pada Masa Remaja

Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikis, yang  mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat, bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal.

Problema yang  mungkin timbul pada masa remaja diantaranya :

  1. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.

Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang  penting, namun ketika  keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja  membutuhkan upaya  pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.

  1. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.

Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Namun ketika, si remaja tidak  mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual, terutama melalui pendidikan di sekolah, maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Begitu juga masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek  perilaku dan kepribadian lainnya.

  1. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan.

Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated  dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya  keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial  yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus  dengan lain jenis dan  jika  tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada,  jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.

  1. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.

Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya.  Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada  kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.

Selain yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Timbulnya problema remaja  dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.  Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Dalam hal ini, peranan orang tua, sekolah, serta  masyarakat sangat diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.

Calvin S. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius

Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada.

Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti

——— 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.

E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

———. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Gendler, Margaret E..1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice.  New York : McMillan Publishing.

H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : McGraw-Hill Book Company

Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB – IKIP Bandung.

Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home Page. <http://www.nbpts.org/ standards/fivecore.html>. (Accessed, 31 Oct 2002).

Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling,  Jakarta : Depdiknas.

———-, dkk. 2004. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling,  Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan  Praktek.   Bandung : Alfabeta

Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung :  Pustaka Setia.

Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG

Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali.

Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori  Tugas Perkembangan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung

Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000.  Refleksi dan Reformasi  Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita.

Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung :  PT Rosda Karya Remaja.

www.puskur.go.id.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s